Showing posts with label KONSUMERISME. Show all posts
Showing posts with label KONSUMERISME. Show all posts

Saturday, September 4, 2010

Mudik Representasi Kaum Urban

Urbanisasi membuktikan ketidakmerataan pembangunan dan distribusi hasil-hasil pembangunan di Indonesia. Sebagian besar penduduk Indonesia bermata pencaharian sebagai petani dan tinggal di pedesaan. Kota merupakan tempat terjadinya produksi dan proses distribusi yang banyak menyerap angkatan kerja, sehingga kota menjadi tujuan utama dari kaum urban. Apapun di kota dapat di olah menjadi uang, sehingga masyarakat yang berada di pinggiran berbondong-bondong menuju kota, untuk mendapatkan penghidupan yang layak, tapi kenyataanya berjejalnya kaum pendatang di kota menyebabkan berbagai permasalahan sosial, gelandangann pengemis, kriminalitas, menurunnya sanitasi dan sebagainya.

Lebaran merupakan moment yang ditunggu oleh kaum urban untuk menunjukkan kesuksesannya di perantauan. Mudik Lebaran sering digunakan oleh mereka yang bekerja di kota untuk unjuk kesuksesan kepada masyarakat di kampung bahwa dirinya, telah sukses bekerja di kota. Mulai dari baju baru dan berganti-ganti,asesories yang menghiasi seluruh tubuhnya (biasanya perempuan) handphone 3G keluaran terbaru atau pun Gadged lainya, tidak lupa kendaraan yang dibawa, Motor baru, atau mobil baru. Semakin mereka dapat menunjukkan indikator itu, mereka dapat di sebut sebagai orang yang sukses yang bekerja merantau di kota.

Bagi kaum elit, Ekonomi sulit bekerja setahun untuk bekal show sukses di hari lebaran. Memang tidak semua seperti cerita di atas, tapi kenyataannya bahwa moment mudik lebaran di gunakan oleh kaum urban untuk menunjukkan apa yang telah ia peroleh setelah bekerja. Konsumen besar-besaran terjadi dalam menyambut hari istimewa tersebut. 

Beberapa hal yang perlu di waspadai bahwa, seusai lebaran, mereka akan pulang kampung dan kembali ke kota dengan membawa membawa sanak saudara mereka untuk bekerja di Kota. Kota akan mendapat tambahan penduduk yang bekerja dengan skill yang terbatas.   

Mudik, agenda tahunan yang dilakukan oleh kaum urban
READ MORE >> Mudik Representasi Kaum Urban

Tuesday, August 17, 2010

MUSIM PANEN CALO TIKET

Bulan ramadhan baru saja berjalan, namun harga bahan kebutuhan pokok merambat naik, hal itu terjadi dengan peningkatan kebutuhan konsumsi di masyarakat. Agaknya lebaran mash menjadi tradisi bagi masyarakat Indonesia untuk melaksanakan ritual pulang kampung, sehingga kaum urban memanfaatkan moment tersebut untuk ramai-ramai mengikuti tradisi tersebut. Secara psikologis keinginan mereka tercium oleh Calo tiket yang memanfaatkan situasi ini untuk mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya dari kaum urban.

Moment lebaran di manfaatkan oleh para calo tiket ini, seperti seorang petani yang menunggu datangnya musim panen. Dengan waktu yang ditetapkan oleh pemerintah sebagai awal dan akhir kenaikan tatif (tuslah) mereka memanfaatkan waktu pendek ini sebaik-baiknya. di terminal bus, stasiun kereta api bahkan di bandara pun tempat mangkal yang asyik masyuk bagi para calo ini. 

Berbagai upaya telah dilakukan oleh pihak berwenag sebenarnya untuk menekan calo ini, tapi tidak mudah untuk memberantas percaloan yang terjadi di negeri ini, karena selain faktor sosial (kondisi sempitnya lapangan pekerjaan) mereka ada juga karena kepentingan orang dalam sendiri. Meskipun spanduk telah dipasang untuk tidak melalui calo toh calo masih saja tetap berkeliaran. Ada indikasi bahwa merka memang mereka di piara oleh orang dalam, sehingga sulit untuk meniadakan mereka. Para calo ini ada juga karena sistem yang kuat dari dalam sehingga kalo mental orang-orang dalam tidak di benahi semakin sulit untuk memberantas praktek percaloan dalam bidang apa pun juga.

Sebagai gambaran bahwa, seorang calon penumpang hanya waktu beberapa menit untuk mendapat tiket, memang relatif mahal, tap ini dapat terbayar jika dibanding dengan keruwetan dan lamanya mengantri berjam-jam. Sepertinya kondisi ini memang diciptakan untuk tetap lestarinya percaloan. Pelayanan semakin baik sebenarnya dapat mengurangi praktek percaloan tiket kereta/ bus. Misalnya jika penyedia jasa dapat menyakinkan kepada calon penumpang dan memberikan pelayanan yang lebih di banding jika lewat calo, maka otomatis para calonpenumpang akan memanfaatkan fasilitas dan pelayanan yang prima dari penyedia jasa.

Mental para pengelola jasa, peningkatan pelayanan dan informasi yang benar kepada penumpang mungkin dapat mengurangi praktek percaloan di negeri kita ini.
READ MORE >> MUSIM PANEN CALO TIKET

Sunday, March 21, 2010

NGANTRI ALAS KAKI IMPORT








hills Pictures, Images and Photos
Beberapa hari lalu di Ibu Kota terjadi antrean panjang di sebuah mall dari lantai satu sampai lantai tiga, bukan hanya ibu-ibu saj yang ngantri belanja dan milih-milih barang, ternyata bapak-bapak, tepatnya laki-laki juga ikut mengantre demi mendapat belanja diskon alas kaki import dari China. Mengherankan memang penduduk negeri ini yang gandrung banget dengan kata impor, alas kaki impor antrean panjang bahkan sampe beberapa hari di buka promo diskonnya masih juga ramai, Pemain bola juga mengimpor, bahkan ada produk minuman semuanya buah dari luar negeri, sapi impor bahkan mencari calon suami juga yang impor,seperti trendnya para selebritis.


Mengandrungi produk luar negeri itu karena faktor kualitas, atau sesuatu yang lain, diluar kesadaran yang lazim, atau memang produk dalam negeri lemah dalam kualitas, atau produksi kita terlalu mahal? Tidak juga banyak produk negara kita yang cukup terjangakau dan berkualitas. Selera belanja tidak hanya dimiliki oleh kaum menengah ke atas saja, namun juga kalangan bawah juga doyan dengan belanja, tentunya barang yang di beli berbeda harga, tapi kalau kita lihat nilai konsumsi dalam prosentase penghasilan sangat tinggi. Misalkan untuk membeli Handphone seorang berpenghasilan rendah bisa menghabiskan setengah dari gaji sebulan untuk mendapatkan HP impiannya, membeli baju 10% dari penghasilannya sebulan dan swbagainya (biasanya mereka yang tinggal di Kota/ dekat kota).

Fenomena belanja barang import ini biasanya terjadi pada kelas menengah keatas, karena selain mereka memiliki uang yang cukup kepuasan yang mereka kejar, selera dan yang paling penting bahwa mereka membeli bukan karena kebutuhannya tercukupi bahkan sesuatu yang melalui itu semua (postkonsumsi). Ada sesuatu yang diperolehnya, mereka membeli produk bukan untuk mencukupi kebutuhannya tapi mereka juga ingin menunjukkan bahwa ia mampu membeli benda-benda import. Mampu membeli benda-benda import memiliki makna (menurut persepsinya) bahwa ia orang berada, artinya ia telah menunjukkan kepada lingkungan kolompoknya bahwa ia memiliki kelas sosial yang cukup/ tinggi, berkelas. Mereka mengkomunikasikan kepada semua orang bahwa ia sebagai pengguna produk import sehingga pantas disebut memiliki kualifikasi seperti gambaran di atas.

Benda-benda import dan obyek belanja lainngya telah membujuk, merayu, membelenggu para konsumen dengan tipu dayanya membuat bawah sadar para pembeli dan calon pembeli semakin dalam merogoh saku, menguras dompetnya tanpa ia sadari sepenuhnya seperti babi ngepet yang mengambil uang semua korbannya, tanpa ia sadari pada awalnya.    
09HH003 Pictures, Images and Photos 

READ MORE >> NGANTRI ALAS KAKI IMPORT

Friday, February 26, 2010

Uang Kembalian=Permen

kopiko Pictures, Images and Photos
Kalau kita pergi pasar swalayan atau mall mall, atau bahkan mini market, foto copy dan lainyya mungkin anda pernah mendapat uang kembalian (susuk)berupa premen dan itu seolah-olah itu dibenarkan karena sudah umum terjadi dimana-mana, dan bisa saja harga permen itu lebih mahal dari susuk yang seharusnya di terima. Taruhlah sebagai contoh kita di kasih permen tiga untuk Rp. 300 dan mungkin bisa saja kita akan di kasih 5 buah untuk susuk Rp. 500 (ini jarang biasanya pecahan Rp. 100 banyak. Tapi ada juga yang di kasih permen coklat seharga Rp. 500 katanya si penjual.

Kasir yang baik, selalu mengusahakan uang pecahan sekecil apapun, karena harga yang di bandol merupakan tanggung jawab penjual. Ini sebenarnya hal kecil,tapi bagi yang memperhatikan marketing tidak bisa menyepelekan hal ini, karena akan berdampak pada pelanggan fanatik swalayan atau toko, warung anda, bisa saja pelanggan dan calon pelanggan berpindah kepada yang peduli pada layanan konsumen yang prima.

Menurut yang saya lihat dan saya alami, sebenarnya penerapan harga yang tidak terdapat pecahan rupiah, misal sebuah pasta gigi dengan harga Rp. 1.435, Sabun mandi Rp. 1.455 Telur Rp. 88/butir. Harga-harga itu seolah-olah diskenario supaya jatuh pada pembulatan ke atas jadi kalu misalnya harga tersebut bisa jatuh pada Pasta gigi 1450, karena tidak ada pecahan Rp.15 dan mungkin akan di kasih premen jika uang yang kita berikan Rp.2000. Pembeli mungkin tidak akan memikirkan uang yang Rp. 15, tapi jika banyak pembeli yang diambil uangnya Rp. 15 dan dari hasil penjualan permen (susuk) berapa keuntungan yang diperoleh sebagai hasil skenario harga-harga aneh tersebut.

Tapi bolehkah jika kita mengumpulkan permen-permen yang kita dapat dari susuk-susuk itu dan ditukarkan dengan barang yang kita inginkan. Misalnya pasti kita akan ditoleh dengan membawa lima permen untuk menukarkan dengan sebuah makanan ringan seharga Rp. 500. Saya menulis ini ketika seusai mengantar istri berbelanja istri pasti dapat permen dan dikumpulkan sampai banyak. Ya masih beginiah budaya para pemilik modal membuat skenario dalam mendapatkan uang yang tidak terpikir oleh konsumen



READ MORE >> Uang Kembalian=Permen
 

blogger templates | Make Money Online