
Hari Valentine (Valentine's Day), pada tanggal 14 Februari adalah sebuah hari di mana para kekasih dan mereka yang sedang jatuh cinta menyatakan cintanya di Dunia Barat. Asal-muasalnya yang gelap sebagai sebuah hari raya Katolik Roma didiskusikan di artikel Santo Valentinus. Beberapa pembaca mungkin ingin membaca entri Valentinius pula. Hari raya ini tidak mungkin diasosiasikan dengan cinta yang romantis sebelum akhir Abad Pertengahan ketika konsep-konsep macam ini diciptakan.
Hari raya ini sekarang terutama diasosiasikan dengan para pencinta yang saling bertukaran notisi-notisi dalam bentuk "valentines". Simbol modern Valentine antara lain termasuk sebuah kartu berbentuk hati dan gambar sebuah Cupido (Inggris: cupid) bersayap. Valentine Day merupakan hari besar kedua setelah Natal di mana kartu-kartu ucapan dikirimkan. Asosiasi yang sama ini juga memperkirakan bahwa para wanitalah yang membeli kurang lebih 85% dari semua kartu valentine.
Sebuah kencan pada hari Valentine seringkali dianggap bahwa pasangan yang sedang kencan terlibat dalam sebuah relasi serius. Sebenarnya valentine itu Merupakan hari Percintaan, bukan hanya kepada Pacar ataupun kekasih, Valentine merupakan hari terbesar dalam soal Percintaan dan bukan berarti selain valentine tidak merasakan cinta.
Hari raya ini diasosiasikan dengan ucapan umum cinta platonik "Happy Valentine's", yang bisa diucapkan oleh pria kepada teman wanita mereka, ataupun, teman pria kepada teman prianya dan teman wanita kepada teman wanitanya. Sementara sebagian orang menganggap hari Valentine sebagai momen yang paling sulit, penuh tekanan sekaligus dangkal karena semakin panjang periode sebuah hubungan cinta, semakin besar tekanan yang pasangan itu alami karena menipisnya ide-ide orisinal. (wikipedia).
Para remaja perempuan dan laki-laki (terutama) terjebak dalam logika yang irasional pada umumnya dan mereka menganggap ini rasional. Bahwa Valentine Day merupakan budaya barat yang diterima lugas oleh mereka tanpa filter, sehingga seolah-olah pindah budaya secara utuh dan mulai mengabaikan budya ketimuran kita yang di kenal dengan budaya yang santun.
Para remaja mengasosiasikan hari tersebut sebagai hari kencan bagi yang sudah berpasangan (pacaran) dan momoent yang tepat untuk mencari pacar. Beberapa gadis atau perjaka merasa tertekan jika tidak memiliki pacar pada saat hari valentine berlangsung. Jadi valentine menjadikan target bagi remaja untuk mendapat pasangan, untuk berkencan, untuk mengejar kesenangan masa remaja mereka. Menjadikan hari tersebut sebagai hari untuk mengungkapkan cinta (erotik)kepada pacarnya.Kadang pasangan tersebut menghabiskan waktu semalaman berdua untuk menikmati hari kasih sayang dengan aplikasi versi mereka, bukan tidak mungkin bisa saja terjadi aktivitas yang melanggar norma sosial maupun Agama.
Tradisi memberikan hadian pada valentine day juga menjadikan meningktnya konsumerisme di kalangan remaja. Bunga Mawar yang biasanya satu tangkai seharga Rp.1000 bisa naik sampai Rp. 5.000, coklat dan pernak pernik hati menjadi komoditi yang sangat laku di pasar, memang ini menggerakkan pasar, namun dalam kacamata konsumrisme semakin meningkatnya daya konsumsi pada remaja.
Melihat beberapa dampak negatif yang dapat di timbulkan oleh perayaan valentine pada remaja, semestinya dapat disikapi dengan benar bahwa: Kasih sayang harus di berikan kepada seluruh anggota Keluarga, orang -orang yang kita cintai, bukannya hanya kepada kekasih sebagai cinta (erotik).kasih sayang harus diberikan kepan saja, bukan hanya satu tahun sekali. Mewaspadai penetrasi budaya yang dapat merugikan secara sosial dan budaya.
No comments:
Post a Comment