Pahlawan Medali
Gegap gempita sea game baru saja berlalu tapi kemenangan Indonesia sebagai juara umum masih di rasakan oleh seluruh bangsa Indonesia. Kini kembali lagi Indonesia mampu menunjukkan dirinya sebagai yang terbaik dalam dunia olah raga yang di lombakan dalam cabang olah raga yang di selenggarakan oleh negara-negara Asia tenggara. Seperti diketahui Indonesia sekaligus tuan rumah berhasil menyabet
sebagai juara umum dengan perolehan 182 medali emas, 151 perak dan 142
perunggu. Untuk peraih emas pemerintah menyiapkan Rp 200 juta. Sementara
untuk perak telah disiapkan Rp 50 juta dan Rp 20 juta untuk peraih
perunggu.(tribune news.com)
Atlit Peraih Medali
Para atlet asal
Kota Malang, Jawa Timur, yang meraih medali emas dalam perhelatan SEA
Games 2011 di Palembang dan Jakarta , akan mendapatkan bonus tambahan
dari KONI setempat. Wakil Ketua IV KONI Kota Malang Bambang DH Suyono, Rabu memastikan,
para peraih medali emas tersebut selain mendapatkan bonus sebesar Rp200
juta dari pusat, juga akan mendapat bonus tambahan dari KONI daerah
itu.(ANTARA News)
Mantan Atlit peraih Medali.
Para atlet yang mendapatkan medali di emas elu-elukan oleh pemerintah bak pasukan yang memenangkan peperangan, dan bonus ratusan juta pun di berikan kepada mereka yang mendapatkan medali emas tersebut sebagai bentuk apresiasi. Hal itu berbanding terbalik dengan nasib para mantan atlet peraih emas pada sea games puluhan tahun lalu. Ada beberapa atlit yang hidupnya dibawah standar kecukupan. Nasibnya tidak seindah sewaktu berjuang untuk mendapatkan medali. Ketika itu namanya pun di elu-elukan bak pahlawan. Seperti bunga yang sudah layu, seperti tebu yang tidak manis lagi. Masa kejayaannya telah usai sehingga fasilitas dan kelayakan hidup pun tidak menghampiri hidupnya.
Tati Sumirah, 55 tahun, mantan pebulutangkis
nasional yang kesohor, kini menjadi seorang kasir. Pada era 1970-an, pebulutangkis perempuan
seangkatan Liem Swie King ini menjadi ratu. Ia bukan hanya ratu dalam
negeri, tapi juga ratu bulutangkis kelas duni.(bogor news)
Marina Segedi. Mantan atlet pencak silat ini pernah menjadi pahlawan
bagi bangsanya. Ia telah mempersembahkan medali emas saat SEA Games di
Filipina, 1981, untuk Indonesia. Kini Marina tidak lagi jaya. Ia bukan atlet lagi, dan tentu saja,
usianya sudah paruh baya, 47 tahun. Sang juara itu pun harus berjuang
keras membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Saat ini ia
beralih menjadi sopir taksi.
Hidup pas-pasan juga dialami Hapsani, peraih medali perak dan perunggu
di SEA Games 1981 dan 1983. Bahkan mantan atlet lari estafet 4 x 100
meter ini terpaksa menjual medali yang diperolehnya ke pasar loak di
Jatinegara Jakarta Timur, pada 1999. Kisah Marina dan Hapsani merupakan gambaran nyata betapa tragisnya nasib
sejumlah mantan atlet yang dulu pernah berjasa mengharumkan nama
bangsa. Mereka terpaksa hidup pas-pasan, membanting tulang untuk
menyambung hidup usai pensiun sebagai atlet nasional.
Selain Marina dan Hapsani, sebenarnya masih banyak mantan atlet
berprestasi yang nasibnya sengsara. Hanya saja pemerintah mengaku
kesulitan untuk mencari informasi keberadaan mereka
Ketua Ikatan Atlet Nasional Indonesia (IANI) Icuk Sugiarto menilai
pemerintah kurang serius memperhatikan nasib para atlet. Bila pemerintah
serius, sebenarnya mudah saja menemukan atau mencari tahu nasib para
mantan atlet yang dulu pernah meraih prestasi. (forum.kompas.com)
Thursday, November 24, 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment