Konversi minyak tanah ke gas oleh pemerintah saat ini menuai protes oleh masyarakat. Ada saja berita televisi yang menyiarkan adanya peristiwa meledaknya kompor gas, yang kebanyakan terjadi pada gas 2 kilo gram. Ini menunjukkan sebenarnya kita belum siap sepenuhnya untuk berpindah dari minyak tanah ke Gas. Pihak-pihak yang merasa memiliki tanggung jawab saling lempar tanggung jawab, dengan mencari pembenaran sendiri.
Apa pun yang terjadi, siapa yang salah dan siapa yang benar itu tidak penting, nyata-nayata rakyat kecil telah menjadi korban. Korban dari kebijakan pemerintah dari konversi minyak ke Gas. Bukan pemerintah saja yang tidak siap, tetapi juga produsen tabung gas, produsen asesosir dan SDM di masyarakat sendiri.
Ditengarai keterlibatan pihak ketiga dalam produksi tabung gas juga menjadi salah satu pemicu menurunnya kualitas tabung itu sendiri. Pengusaha nakal dari pengisian gas, bahkan stasiun pengisian gas juga bisa menjadi salah satu penyebab terpicunya kebakaran. Selain itu tidak kalah penting juga SDM di masyarakat yang memiliki sedikit wawasan, sehingga terjadinya kecelakaan, meledaknya gas 3 kg.
Sebaiknya memang tidak usah saling menyalahkan siapa yang paling bertanggung jawab, bahwasanya ini merupakan tanggung jawab kita bersama, bagaimana supaya kita, supaya rakyat kecil, supaya seluruh bangsa Indonesia terhindar dari teror gas ini. Pihak pertamina bekerja sama dengan pihak-pihak terkait untuk meningaktkan sosialisasi penggunaan gas LPG kepada seluruh lapisan masyarakat. Pihak Produsen menarik tabung gas yang kualitasnya menurun. Produsen Meningkatkan kualitas dan memperkecil kemungkinan terjadinya kebpcoran gas. Masyarakat harus memiliki wawasan yang cukup tentang penggunaan dan bahaya kompor gas. Pemerintah memberikan perlindungan asuransi kebakaran dan sejenisnya kepada masyarakat yang menjadi korban.
mudah-mudahan ini membawa manfaat bagi kita semua
No comments:
Post a Comment