

Realiti show yang muncul di televisi noasional belakangan ini beramai-ramai mencari menanguk rupiah dari para sponsor pendukung acara mereka. Acara realiti show seperti termehek-mehek, orang ketiga,realigi, tolong dan masih banyak lagi. Setidaknya acara tersebut meimiliki rating yang cukup tinggi, ambil contoh termehek-mehek yang sampai sekarang masih di tunggu-tunggu oleh para pengemarnya.Jam tayang yang strategis merupakan penyebab naiknya rating sebuah acara TV, selain materi yang disajikan dapat menghibur para penonton. Tidak kalah menariknya sinetron dan infotaiment merupakan acara yang ditunggu-tunggu, terutama oleh para ibu-rumahtangga yang memiliki banyak waktu di rumah.
Materi yang disajikan dari realiti show dari yang disebutkan diatas bertema kesedihan. Kesedihan yang bisa saja direkayasa untuk mendapatkan rupiah yang melimpah. Seolah-olah kesan yang dapat kita terima bahwa program acara ini sangat mulia, karena rela membantu klien yang tidak dikenal sebelumnya (dlm skenario, amatiran, biar terkesan natural) dengan tujuan mulia ingin membantu menyelesaikan permasalahan yang di hadapai kliennya. Pemirsa tersihir oleh kemuliaan program tersebut, sehingga bawah sadar masyarakat Indonesia yang rindu ketulusan, kemuliaan penggagas acara, sehingga terbuai oleh kepalsuan yang dipoles dengan akting-akting kesedihan.
Dalam acara tersebut si klien adalah orang yang menderita, orang yang sedih dan dalam kesulitan.Tapi karena adanya obyek yang bisa di kamuflase menjadi (seolah-olah) kejadian nyata. Akhirnya kenaifan para pemirsa ini dapat diketahui oleh si perancang acara, dengan memperdagangkan kesedihan yang dialami klien dan pihak korporat dan rekan-rekannya mendapatkan uang dari pihak ketiga yang menyeponsori acara tersebut. Singkat kata bahwa apa saja dapat dijadikan uang, itulah motto bagi para kapitalis. UUD, ujung -ujungnya duit.
Ada banyak lagi pertanyaan yang dapat diajukan dari program tersebut:
1. Apa benar semua acara-acara tersebut real?
2. Apakah memang ada orang yang rela menunjukkan aibnya hanya untuk kegiatan tersebut?
3. Apa ada jaminan bahwa acara tersebut sarat rekayasa?
4. Manfaatkan waktu buat keluarga
5. Jangan terbuai oleh bujuk rayu, kesedihan dan air mata, tanpa sebab
Kita harus bijak menjadi pemirsa televisi, janganlah kita menonton TV pada acara-acara yang tidakbermanfaat. Dampingi anak-anak anda dalam menonton TV untuk mengadakan klarifikasi terhadap anak mengenai materi yang baru saja dilihat bersama. Jangan habiskan waktu ada untuk hal-hal yang tidak penting.
No comments:
Post a Comment